KOTA TANPA
NAMA
"Aku masih di sini, tapi jangan cari aku."
"Orang mati tidak mengirim pesan suara. Tapi Alvan melakukannya."
Tiga tahun setelah kematian kekasihnya, dunia Rhea runtuh oleh satu notifikasi. Mengabaikan akal sehat, Rhea menaiki kereta hantu menuju koordinat yang tak tercatat di peta mana pun. Ia tiba di sebuah kota yang tertutup kabut abadi—tempat di mana jalanan berubah mengikuti kata hati dan logika tidak memiliki kuasa.
Di "Hotel Tanpa Resepsionis", Kamar Nomor 7 telah menantinya: teh melati yang masih mengepul, buku puisi Sapardi yang terbuka, dan aroma hujan yang begitu nyata.
"Di kota ini, kenangan bukan sekadar masa lalu, melainkan ruangan yang bisa dimasuki."
Namun, Rhea harus menjawab satu pertanyaan mengerikan: Apakah ini kesempatan kedua untuk cinta yang hilang, ataukah ia sedang berjalan masuk ke dalam perangkap jiwanya sendiri?